Senin, 23 Desember 2013

Tugas Softskill Psikologi Manajemen

TUGAS SOFTSKILL
PSIKOLOGI MANAJEMEN








FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA

Disusun Oleh :
3 PA 06
·         Dienning Oktishinta        15509040
·         Faradina Lestari W P     12511691
·         Ines Herryanti                 13511629
·         Khaulah Fauzia Hasan   13511974

Depok

DESEMBER 2013





I.                   TINJAUAN PUSTAKA

A.    KEKUASAAN
1.      Definisi Kekuasaan
Kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan oleh seseorang atau kelompok guna menjalankan kewenangan tersebut sesuai dengan kewenangan yang diberikan, kewenangan tidak boleh dijalankan melebihi kewenangan yang diperoleh atau kemampuan seseorang atau kelompok untuk memengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku (Miriam Budiardjo,2002) atau Kekuasaan merupakan kemampuan memengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang memengaruhi (Ramlan Surbakti,1992).
Dalam pembicaraan umum, kekuasaan dapat berarti kekuasaan golongan, kekuasaan raja, kekuasaan pejabat negara. Sehingga tidak salah bila dikatakan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak yang ada pada pemegang kekuasaan tersebut. Robert Mac Iver mengatakan bahwa Kekuasaan adalah kemampuan untuk mengendalikan tingkah laku orang lain baik secara langsung dengan jalan memberi perintah / dengan tidak langsung dengan jalan menggunakan semua alat dan cara yg tersedia. Kekuasaan biasanya berbentuk hubungan, ada yg memerintah dan ada yg diperintah. Manusia berlaku sebagau subjek sekaligus objek dari kekuasaan. Contohnya Presiden, ia membuat UU (subyek dari kekuasaan) tetapi juga harus tunduk pada UU (objek dari kekuasaan).
Menurut Miriam Budiardjo kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau sekelompok manusia untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa, hingga tingkah laku itu sesuai dengan keinginan dan tujuan dari orang yang mempunyai kekuasaan itu.
Ossip Flechtheim menyatakan kekuasaan adalah keseluruhan dari kemampuan, hubungan-hubungan dan proses-proses yang menghasilkan ketaatan dari pihak lain, untuk tujuan-tujuan yang ditetapkan oleh pemegang kekuasaan.
Menurut Max Weber kekuasaan adalah kesempatan seseorang atau sekelompok orang untuk menyadarkan masyarakat akan kemauan-kemauan sendiri dengan sekaligus menerapkannya terhadap tindakan-tindakan perlawanan dari orang-orang atau golongan-golongan tertentu.

2.      Sumber-Sumber Kekuasaan
Kartini Kartono (1994) mengungkapkan bahwa sumber kekuasaan seorang pemimpin dapat berasal dari:
·         Kemampuannya untuk mempengaruhi orang lain
·         Sifat dan sikapnya yang unggul, sehingga mempunyai kewibawaan terhadap pengikutnya;
·         Memiliki informasi, pengetahuan, dan pengalaman yang luas
·         Memiliki kemahiran human relation yang baik, kepandaian bergaul dan berkomunikasi.
Sumber-sumber kekuasaan juga dapat dibagi menjadi 2:
a.       Sumber kekuasaan antar individu (interpersonal sources of power).
·         Kekuasaan Formal (Formal Power) adalah kekuasaan yang didasarkan pada posisi individual dalam suatu organisasi.
·         Kekuasaan Personal (Personal Power) adalah kekuasaan yang berasal dari karakteristik unik yang dimiliki seorang individu.
b.      Sumber kekuasaan struktural (structural sources of power). Kekuasaan ini juga dikenal dengan istilah inter-group atau inter-departmental power yang merupakan sumber kekuasaan kelompok.
Ada pun sumber kekuasaan itu sendiri ada 3 macam,yaitu:
a.      Kekuasaan yang bersumber pada kedudukan
1.)    Kekuasaan formal atau Legal (French & Raven 1959), Contohnya komandan tentara, kepala dinas, presiden atau perdana menteri. Kendali atas sumber dan ganjaran (French & Raven 1959), Majikan yang menggaji  karyawannya, pemilik sawah yang mengupah buruhnya,  kepala suku atau kepala kantor yang dapat memberi ganjaran kepada anggota atau bawahannya.
2.)    Kendali atas hukum (French & Raven 1959), Kepemimpinan yang didasarkan pada rasa takut. Contohnya perman-preman yang memunguti pajak dari pemilik toko. Para pemilik toko mau saja menuruti kehendak para preman itu karena takut mendapat perlakuan kasar. Demikian pula anak kelas satu SMP yang takut pada senior kelas3 yang galak dan suka memukul sehingga kehendak seniornya itu selalu dituruti.
3.)    Kendali atas informasi (Pettigrew, 1972), Siapa yang menguasai informasi dapat menjadi pemimpin. Contohnya orang yang paling tahu jalan diantara serombongan pendaki gunung yang tersesat akan menjadi seorang pemimpin. Ulama akan menjadi pemimpin dalam agama. Ilmuan menjadi pemimpin dalam ilmu pengetahuan.
4.)    Kendali ekologik (lingkungan), Sumber kekuasaan ini dinamakan juga perekayasaan situasi.
·         Kendali atas penempatan jabatan: Seorang atasan atau manager mempunyai kekuasaan atas bawahannya karena ia boleh menentukan posisi anggotanya.
·         Kendali atas tata lingkungan: Kepala dinas tata kota berhak memberi  izin bangunan. Orang-orang ini menjadi pemimpin karena kendalinya atas penataan lingkungan.
b.      Kekuasaan yang bersumber pada kepribadian
1.)    Keahlian atau keterampilan (French & Raven 1959), Contohnya pasien-pasien di rumah sakit menganggap dokter sebagai pemimpin karena dokterlah yang dianggap sebagai ahli untuk menyembuhkan penyakitnya.
2.)    Persahabatan atau kesetiaan (French & Raven 1959), Sifat dapat bergaul, setia kawan atau setia kepada kelompok dapat merupakan sumber kekuasaan sehingga seseorang dianggap sebagai pemimpin. Contohnya pemimpin yayasan panti asuhan dipilih karena memiliki sifat seperti Ibu Theresa.
3.)    Karisma (House,1977), Ciri kepribadian yang menyebabkan timbulnya kewibawaan pribadi dari pemimpin juga merupakan salah satu sumber kekuasaan dalam proses kepemimpinan.
c.       Kekuasaan yang bersumber pada politik
1.)    Kendali atas proses pembuatan keputusan (Preffer  & Salanick, 1974), Ketua menentukan apakah suatu keputusan akan di buat dan dilaksanakan atau tidak.
2.)    Koalisi (stevenson, pearce & porter 1985), Ditentukan hak dan wewenang untuk membuat kerjasama dalam kelompok.
3.)    Partisipasi (Preffer, 1981), Pempimpin yang mengatur pastisipasi dari masing-masing anggotanya.
4.)    Institusionalisasi, Pempimpin agama menikahkan suami istri. Notaris atau hakim menentapkan berdirinya suatu perusahaan.
B.     STRESS
1.      Definisi Stress
Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental. Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain.
Menurut Robbins (2001) stress juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang. Dan apabila pengertian stress dikaitkan dengan penelitian ini maka stress itu sendiri adalah suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan fisik atau psikis seseorang karena adanya tekanan dari dalam ataupun dari luar diri seseorang yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka.
Menurut Woolfolk dan Richardson (1979) menyatakan bahwa adanya system kognitif, apresiasi stress menyebabkan segala peristiwa yang terjadi disekitar kita akan dihayati sebagai suatu stress berdasarkan arti atau interprestasi yang kita berikan terhadap peristiwa tersebut, dan bukan karena peristiwa itu sendiri.Karenanya dikatakan bahwa stress adalah suatu persepsi dari ancaman atau dari suatu bayangan akan adanya ketidaksenangan yang menggerakkan, menyiagakan atau mambuat aktif organisme.
Sedangkan menurut Handoko (1997), stress adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Stress yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungannya.
Stress menurut Hans Selye 1976 merupakan respon tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap tuntutan atau beban atasnya. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikatakan stress apabila seseorang mengalami beban atau tugas yang berat tetapi orang tersebut tidak dapat mengatasi tugas yang dibebankan itu, maka tubuh akan berespon dengan tidak mampu terhadap tugas tersebut, sehingga orang tersebut dapat mengalami stress. Respons atau tindakan ini termasuk respons fisiologis dan psikologis.

2.      Sumber-Sumber Stress
Terdapat beberapa sumber-sumber stress yang dapat mengganggu kesehatan psikis manusia. Menurut Lazarus & Folkman (dalam Morgan, 1986) kondisi fisik, lingkungan dan sosial yang merupakan penyebab dari kondisi stres disebut dengan stressor. Stressor dapat berwujud dan berbentuk fisik, seperti polusi udara dan dapat juga berkaitan dengan lingkungan sosial. Pikiran ataupun perasaan individu sendiri yang dianggap sebagai suatu ancaman baik yang nyata maupun imajinasi dapat juga menjadi stressor.
Lazarus & Cohen (1984) mengklasifikasikan stressor kedalam tiga kategori, yaitu:


a.      Catacysmic Event
Fenomena besar atau tiba–tiba terjadi, seperti kejadian–kejadian penting yang mempengaruhi banyak orang seperti bencana alam.
b.      Personal Stressor
Kejadian–kejadian penting mempengaruhi sedikit orang atau sejumlah orang tertentu, seperti kritis keluarga.
c.       Background stressor
Pertikaian atau permasalahan yang bisa terjadi setiap hari, seperti masalah dalam pekerjaan dan rutinitas pekerjaan.

Sarafino (1998) membagi empat jenis sumber stres yang dapat terjadi pada kehidupan individu:
a.      Sumber yang berasal dari individu
Ada dua cara stres berasal dari individu. Pertama adalah melalui adanya penyakit. Penyakit yang diderita individu menyebabkan tekanan biologis dan psikologis sehingga menimbulkan stres. Sejauh mana tingkat stres yang dialami individu dengan penyakitnya dipengaruhi faktor usia dan keparahan penyakit yang dialaminya. Cara kedua adalah melalui terjadinya konflik. Konflik merupakan sumber yang paling utama. Didalam konflik individu memiliki dua kecenderungan yang berlawanan : menjauh dan mendekat.
Individu harus memiliki dua atau lebih alternatif pilihan yang masing–masing memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Keadaan seperti ini banyak dijumpai saat individu dihadapkan pada keputusan–keputusan mengenai kesehatannya.
b.      Sumber yang berasal dari keluarga
Stres dalam keluarga dihasilkan melalui adanya perilaku, kebutuhan–kebutuhan dan kepribadian dari masing–masing anggota keluarga yang berdampak kepada anggota keluarga lainnya. Konflik interpersonal ini dapat timbul dari adanya masalah finansial, perilaku yang tidak sesuai, melalui adanya tujuan yang berbeda antar anggota keluarga, bertambahnya anggota keluarga perceraian orang tua, penyakit dan kecacatan yang dialami anggota keluarga dan kematian anggota keluarga.
c.       Sumber stres yang berasal dari komunitas dan masyarakat
Adanya hubungan manusia dengan lingkungan luar menyebabkan banyak kemungkinan munculnya sumber – sumber stres. Misalnya: stres yang dirasakan anak sekolah akibat adanya kompetisi – kompetisi dalam hal seperti olah raga.
Di sisi lain, stres yang dialami oleh orang dewasa banyak diperoleh melalui pekerjaannya dan berbagai situasi lingkungan. Stres yang diperoleh melalui pekerjaan contohnya dikarenakan : diluar sisi kerja, kontrol yang rendah terhadap pekerjaan yang diemban, kurangnya hubungan interpersonal dengan sesama rekan kerja, promosi jabatan, kehilangan pekerjaan lainnya. Stres yang diperoleh dari lingkungan juga dapat diakibatkan oleh lingkungan yang berisik dan padat serta lingkungan yang tercemar (Sarafino, 1998)
d.      Life – Change Events
Stres juga berasal dari Life – Change Events yaitu peristiwa – peristiwa yang membawa perubahan dalam kehidupan manusia dan diperlukan adaptasi terhadapnya. Homes & Rahe (dalam Matteo,1991) melakukan suatu penelitian yang dimulai dari adanya hipotesis bahwa tingkat stres yang dialami individu dapat dilihat dari sejumlah perubahan hidup yang sedang dialami.

3.      Pendekatam Stress
3 Pendekatan pada stres menurut Sarafino (1994) adalah :
a.      Stimulus
Keadaan/situasi dan peristiwa yang dirasakan mengancam atau membahayakan yang menghasilkan perasaan tegang disebut sebagai stressor. Beberapa ahli yang menganut pendekatan ini mengkategorikan stressor menjadi tiga :
·         Keadaan kronis, contoh hidup dalam keadaan suasana yang bising
·         Peristiwa hidup yang penting, contoh : kehilangan seseorang yang disayangi
·         Peristiwa katastropik, contoh : gempa bumi
b.      Respon
Respon adalah reaksi seseorang terhadap stresor. Terdapat dua komponen yang saling berhubungan, komponen Fisiologis dan komponen Psikologis. Dimana kedua espon tersebut disebut dengan strain atau ketegangan.
·         Komponen Fisiologis, misalnya detak jantung, sakit perut, keringat
·         Komponen psikologis, misalnya pola berfikir dan emosi
c.       Proses
Stres sebagai suatu proses terdiri dari stresor dan strain ditambah dengan satu dimensi yang peting yaitu hubungan antara manusia dengan lingkungan. Proses ini melibatkan interaksi dan penyesuaian diri yang kontinyu yang disebut juga dengan istilah transaksi antara manusia dengan lingkungan, yang didalamnya termasuk perasaan yang dialami dan bagaimana orang lain merasakannya.
Menurut Cox (dalam Crider dkk, 1983) terdapat dua model pendekatan stres, yaitu :
a.      Response-based model
Stres model ini mengacu sebagai sekelompok gangguan kejiwaan dan respon psikis yang timbul pada situasi sulit.
b.      Stimulus-based model
Model ini memusatkan perhatian pada sifat-sifat stimuli stres. 3 karakteristik penting dari stimuli stres adalah sebagai berikut :
·         Overload
·         Conflict
·         Uncontrollability
Suprihanto dkk (2003) mengatakan bahwa, ada dua pendekatan yaitu pendekatan individu dan pendekatan organisasi.
a.      Pendekatan Individual
Seorang karyawan dapat berusaha sendiri untuk mcngurangi level stresnya. Strategi yang bersifat individual yang cukup efektif yaitu; pengelolaan waktu, latihan fisik, latihan relaksasi, dan dukungan sosial. Dengan pengelolaan waktu yang baik maka seorang karyawan dapat menyelesaikan tugas dengan baik, tanpa adanya tuntutan kerja yang tergesa-gesa. Dengan latihan fisik dapat meningkatkan kondisi tubuh agar lebih prima sehingga mampu menghadapi tuntutan tugas yang berat. Selain itu untuk mengurangi sires yang dihadapi pekerja pcrlu dilakukan kegiatan-kegiatan santai. Dan sebagai stratcgi terakhir untuk mengurangi stres adalah dengan roengumpulkan sahabat, kolega, keluarga yang akan dapat memberikan dukungan dan saran-saran bagi dirinya.
b.      Pendekatan Organisasional
Beberapa penyebab stres adalah tuntutan dari tugas dan peran serta struktur organisasi yang scmuanya dikendalikan oleh manajemen, schingga faktor-faktor itu dapat diubah. Oleh karena itu strategi-strategi yang mungkin digunakan oleh manajemen untuk mengurangi stres karyawannya adalah melalui seleksi dan penempatan, penetapan tujuan, redesain pekerjaan, pengambilan keputusan partisipatif, komunikasi organisasional, dan program kesejahteraan. Melalui strategi tersebut akan menyebabkan karyawan memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya dan mereka bekerja untuk tujuan yang mereka inginkan serta adanya hubungan interpersonal yang sehat serta perawatan terhadap kondisi fisik dan mental. Secara umum strategi manajemen stres kerja dapat dikelompokkan mcnjadi strategi penanganan individual, organisasional dan dukungan sosial (Margiati, 1999):



1.)    Strategi Penanganan Individual
Yaitu strategi yang dikembangkan secara pribadi atau individual. Strategi individual ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:
·         Melakukan perubahan reaksi perilaku atau perubahan reaksi kogtiitif.
Artinya, jika seorang karyawan merasa dirinya ada kenaikan ketegangan, para karyawan tersebut seharusnya time out terlebih dahulu. Cara time out ini bisa macam-macam, seperti istirahat sejenak namun masih dalam ruangan kerja, keluar ke ruang istirahat (jika menyediakan), pergi sebentar ke kamar kecil untuk membasuh muka air dingin atau berwudlu bagi orang Islam, dan sebagainya
.
·         Melakukan reiaksasi dan meditasi. Kegiatan relaksasi dan medilasi ini bisa dilakukan di rumah pada malam hari atau hari-hari libur kerja. Dengan melakukan relaksasi, karyawan dapat membangkitkan perasaan rileks dan nyaman. Dengan demikian karyawan yang melakukan relaksasi diharapkan dapat mentransfer kemampuan dalam membangkitkan perasaan rileks ke dalam perusahaan di mana mereka mengalami situasi stres. Beberapa cara meditasi yang biasa dilakukan adalah dengan menutup atau memejamkan mata, menghilangkan pikiran yang mengganggu, kemudian perlahan-lahan mengucapkan doa.
·         Melakukan diet dan fitnes. Beberapa cara yang bisa ditempuh adalah mengurangi masukan atau konsumsi garam dan makanan mengandung lemak, memperbanyak konsumsi makanan yang bervitamin seperti buah-buahan dan sayur-sayuran, dan banyak melakukan olahraga, seperti lari secara rutin, tenis, bulu tangkis, dan sebagainya (Baron & Greenberg dalam Margiati, 1999).
2.)    Strategi-strategi Penanganan Organisasional.
Strategi ini didesain oleh manajemen untuk menghilangkan atau mengontrol penekan tingkat organisasional untuk mencegah atau mengurangi stres kerja untuk pekerja individual. Manajemen stres melalui organisasi dapat dilakukan dengan :
·         Menciptakan iklim organisasional yang mendukung.
·         Memperkaya desain tugas-tugas dengan memperkaya kerja baik
·         Mengurangi konflik dan mengklarifikasi peran organisasional
·         Rencana dan pengembangan jalur karir dan menyediakan konseling
3.)    Strategi Dukungan Sosial.
Untuk mengurangi stres kerja, dibutuhkan dukungan sosial terutama orang yang terdekat, seperti keluarga, teman sekerja, pemimpin atau orang lain. Agar diperoleh dukungan maksimal, dibutuhkan komunikasi yang baik pada semua pihak, sehingga dukungan sosial dapat diperoleh seperti dikatakan Landy.
Karyawan dapat mengajak berbicara orang lain tentang masalah yang dihadapi, atau sctldaknya ada tempat mengadu atas keluh kesahnya


II.                TULISAN

A.    Kisah Stress Pribadi
Stress  Saat Masa-masa Sekolah Menengah Atas (SMA)
Ketika saya duduk dibangku Sekolah, saat itu kelas 1 SMA atau bisa dibilang kelas X di SMA. Kelas X merupakan masa-masa remaja yang menyenangkan, karena saat itu saya tidak pernah memikirkan akan nilai ujian di Sekolah. Saya sering main setelah pulang Sekolah dengan teman-teman saya.
Sekolah yang jauh dari Rumah, mungkin menyebabkan saya sering main saat pulang Sekolah. Letak Sekolah saya di Jakarta Pusat, sedangkan Rumah saya berada di daerah Cibubur. Dengan jadwal jam masuk Sekolah saat itu adalah pukul 06.30 WIB yang benar-benar saya sangat tidak setuju ketika itu, menyebabkan saya harus spare waktu antara bangun pagi dan berangkat ke Sekolah harus on time. Perjalanan dari Rumah menuju Sekolah akan menyita waktu sekitar 1 jam 15 menit apabila tidak kena macet.
Kondisi jalanan di Jakarta yang tidak dapat diprediksi benar-benar membuat saya stress ketika tiba-tiba dijalan ada kecelakaan, ban bocor dan hal-hal yang tidak dapat diprediksi membuat macet selama perjalanan. Saya harus berangkat pagi tepat pukul 05.15 WIB. Ketika itu saya pernah telat bangun, sehingga menyebabkan saya datang terlambat ke Sekolah. Selama perjalanan ke Sekolah saat diboncengi ayah saya, saya hampir nangis karena takut di dimarahi oleh guru.
Pertama kalinya telat ketika itu, alhasil setelah mengalami stress dan panik yang berlebihan akan terlambat ke Sekolah, saat sesampainya di Sekolah saya dihukum oleh guru piket. Saya disuruh berlari memutari lapangan sebanyak 3 kali. Setelah berlari keliling lapangan saya harus melepas sepatu saya yang sebelah selama jam pelajaran berlangsung sampai pulang sekolah baru sepatu saya dapat diambil.
Lalu selama 3 tahun saya Sekolah, saya sering terlambat karena perjalanan di Jakarta yang tidak dapat diprediksi. Pengalaman pertama terlambat ke Sekolah merupakan hal yang membuat saya stress, setelah itu keesokan harinya saya sudah biasa saja ketika terlambat, mungkin karena sudah biasa.
Ada lagi hal yang membuat saya stress, ketika itu saya duduk di bangku kelas 2 SMA atau kelas XI di SMA. Masa ini merupakan masa-masa yang paling usil menurut saya, karena saat itu saya pernah ngejailin atau ngusilin teman sekelas saya. Teman saya ini sangat tidak disukai di Kelas. Akhirnya saya pernah membuat teman saya ini menangis dan tidak dia tidak mau masuk Sekolah sampai seminggu.
Ketika itu saya mengusili dia dengan pernah menyiram roknya di kamar mandi, saat itu saya bilangnya tidak sengaja dengan dia, lalu saya pernah ngumpetin sepatunya di tempat sampah sehingga dia kebingungan mencari sepatunya dimana dan hampir menangis. Ketika dia tahu saya yang ngumpetin, keesokan harinya dia tidak ingin masuk Sekolah.
Dua hari kemudian, ibunya datang ke Sekolah dan menceritakan ke wali kelas saya dan meminta sahabat dekat saya untuk mejenguk teman saya yang dikerjain itu. Siang harinya setelah pulang Sekolah saya menjenguk dia ke Rumahnya. Selama perjalanan ke Rumahnya, saya sangat stress, karena dalam pikiran saya “apakah sesampainya di Rumah teman saya itu, saya di omelin ibunya atau tidak”. Sampai-sampai saya suka tidak mendengar teman saya ketika memanggil dan saya suka tidak nyambung atau connect saat diajak berbicara selama perjalan ke Rumah teman saya yang di bully.
Alhasil ketika sampai di Rumahnya ternyata ibunya sangat ramah dan welcome kepada saya dan sahabat saya. Setelah ibunya menyambut saya dengan hangat, rasanya hati ini lega sekali dan sayapun meminta maaf kepada teman saya.
Keesokan harinya saya dipanggil oleh guru BK (bimbingan konseling) di Sekolah, saat dipanggil inilah membuat saya stress dan cemas. Saya diancam akan diskorsing dan dipanggil orangtuanya apabila saya tidak mau berteman dengan dia dan tidak mau meminta maaf di depan kelas, di depan teman-teman saya kepada dia. Dari pada saya diskorsing dan dipanggil orangtua, lebih baik saya meminta maaf didepan teman-teman saya walaupun rasanya malu.
Ada lagi cerita saat saya berada di kelas 3 SMA atau kelas XII di SMA. Masa-masa ini merupakan masanya fokus untuk belajar karena akan menghadapi ujian nasional. Ketika itu saya tidak terlalu memperdulikan nilai-nilai ujian tengah semester dan nilai ujian akhir sekolah.
Saya sering main setelah pulang Sekolah. Setelah main dan sesampainya di Rumah membuat badan saya terasa lelah sehingga saya jarang sekali belajar, saya belajar apabila ada PR saja. Saat semester pertama, diadakanlah ujian tengah semester. Saat ujian saya memang agak merasa kesulitan mengerjakan soal-soal ujian tersebut. Alhasil ketika pengambilan raport bayangan, ada 6 nilai saya dibawah 6 sehingga keenam nilai tersebut mendapatkan nilai merah.
Hal ini membuat saya stress dan menangis. Saya takut sesampainya di Rumah akan diomelin atau dimarahin habis-habisan oleh ibu saya dan takut tidak lulus ujian. Selama sebulan lebih saya memikirkan bagaimana nasib nilai saya nantinya. Apakah saya bisa lulus SMA dengan 6 nilai yang merah. Mungkin hanya saya, siswi yang mendapatkan nilai merah sebanyak 6.
Masa SMA memang menyenangkan tapi begitu banyak hal-hal yang membuat saya stress¸ panik, takut, khawatir, cemas, dan lain-lain. Cerita diatas adalah sebagian dari cerita stress dan kepanikan, cemas, dan lain-lain saat berada masih dibangku SMA.


B.     Contoh Kasus Stress di tempat kerja
‘Bunuh Diri’ Massal di PT.FOXCONN China
Waktu peristiwa : tahun 2010 di China
PT. FOXCONN merupakan perusahaan yang memproduksi barang-barang eleketronik seperti, Apple, Nitendo, Sony dan HP. Awal tahun 2010, dikejutkan dengan terjadinya bunuh diri yang dilakukan 18 orang pekerja. Bunuh diri massal ini dilakukan dengan melompat dari atas puncak gedung perusahaan dengan 14 orang yang tewas.
Protes yang dilakukan pekerja pada bulan Januari yakni dikarenakan manajer perusahaan memutuskan untuk menggeser sekitar 600 pekerja untuk lini produksi baru, membuat pembungkus computer Acer, perusahaan asal Taiwan. “kami disuruh bekerja tanpa pelatihan apapun dan dibayar sedikit demi sedikit” kata salah seorang pekerja memprotes yang tidak meminta disebutkan namanya. “ jalur perakitan sangat cepat dan hanya satu hari tangan kami semua telah lecet dan kulit ditangan kami menghitam, pabrik itu pun sudah penuh debu dan tida ada yang bisa menahan” ujarnya menambahkan.
Beberapa laporan dari dalam pabrik Foxconn telah menyarankan bahwa sementara perusahaan lebih maju daripada banyak pesaingnya, dengan menggunakan gaya militer dan banyak para pekerja yang tidak sanggup bertahan. Pabrik unggulan Foxconn di Longhua, sebanyak 5% dari pekerja atau 24.000 orang pekerja berhenti.
“Karena kami tidak tahan, kami mogok” kata pekerja itu. “ini bukan tentang uang, namun karena kami merasa tidak punya pilihan. Pada awalnya, para manajer mengatakan siapa saja yang ingin berhenti dapat bayaran satu bulan gaji sebagai kompensasi. Tapi kemudian mereka menarik tawaran itu. Jadi kami pergi keatap dan mengancam bunuh diri massal”. Pekerja mengatakan bahwa Foxconn awalnya menolak untuk bernegosiasi, tetapi bahwa para pekerja diperlakukan cukup baik oleh polisi dan pasukan pemadam kebakaran. Para pekerja akhirnya dibujuk turun setelah dua hari diatas pabrik berlantai tiga di Wuhan oleh manajer Foxconn dan pejabat parta komunis China.
Seorang juru bicara Foxconn dikonfirmasi tentang protes itu, dan mengatakan bahwa insiden itu “berhasil dan diselesaikan dengan damai setelah diskusi antara pekerja, pejabat Foxconn lokal dan perwakilan pemerintah daerah. Dia menambahkan bahwa 45 karyawan Foxconn telah memilih untuk mengundurkan diri dan sisahnya telah kembali bekerja. “kesejahteraan karyawan kami merupakan prioritas utama kami dan kami berkomitmen untuk memastikan bahwa semua karyawan diperlakukan adil.” Katanya.
ULASAN
Kasus ini membahas mengenai aksi protes buruh salah satu pabrik di China yaitu PT.FOXCONN. Aksi protes ini ditunjukkan dengan melakukan bunuh diri massal yakni melompat dari atas puncak gedung perusahaan yang mengakibatkan 14 orang tewas. Penyebab dari aksi tersebut dikarenakan tidak diperlakukan adil oleh perusahaan. Hal serupa juga akan dilakukan kembali ketika pihak perusahaan memutuskan untuk menggeser 600 orang pekerjanya ke dalam lini produksi baru. Para pekerja merasa tidak nyaman karena mereka diperlakukan seperti halnya kerja rodi. Dengan fasilitas serta kondisi lingkungan kerja yang buruk, para pekerja dituntut untuk dapat meyelsaikan pekerjaan untuk memenuhi target pemesanan. Hampir 24000 pekerja mengundurkan diri, namun dengan dampak seperti ini membuat perusahaan lebih memerhatikan pekerjanya dan menjadikan pekerja sebagai prioritas utama.
Berdasarkan kasus diatas menggambarkan dampak psikologis yang mendalam oleh para pekerja. Yakni stress atau bahkan depresi dikarenakan ketidakpuasan mereka terhadap fasilitas serta lingkungan kerja. Seperti halnya identifikasi mengenai stress yang dilakukan oleh Kreitner dan Kinici (2004) yakni bahwa stres merupakan respon adaptif yang dipengaruhi oleh karakteristik individual dan atau proses psikologis yaitu akibat dari tindakan, situasi, atau kejadian eksternal yang menyebabkan tuntutan fisik dan atau psikologis terhadap seseorang. Sehingga menurunkan motivasi mereka dalam bekerja, dan membuat mereka melakukan tindakan yang fatal seperti itu. Faktor-faktor yang mempengaruhi para buruh PT. Foxconn menjadi stress dan melakukan hal nekat tersebut yaitu dikarenakan bertambahnya tanggung jawab tanpa adanya penambahan upah atau gaji, sehingga mengakibatkan hubungan mereka dengan atasan menjadi buruk (Palupi, 2003).
Selain itu juga dapat dikaitkan dengan teori kebutuhan Masslow, para pekerja tidak dapat memenuhi kebutuhan hierarki mereka, seperti halnya pengahargaan dan keamanan dalam bekerja. Pihak perusahaan tidak memikirkan kesehatan bahkan keselamatan mereka dengan lingkungan kerja yang baik. Sehingga membuat para pekerja merasa tidak diperhatikan, mungkin mereka tidak sampai mengalami PHK namun perlakukan yang mereka terima ditempat kerja tidaklah setimpal.
KESIMPULAN
Penyelesaiian terhadap kasus ini ialah dengan merundingkan dan mendengarkan keluhan para pekerja. Berdasarkan keluhan-keluhan tersebut maka perlu dilakukannya perbaikan terutama pada lingkungan serta tata cara bekerja yang baik. Hal tersebut dilakukan agar dapat memotivasi para pekerja dan membuat mereka merasa diperhatikan dan diperdulikan oleh perusahaan. Berdasarkan pengertian motivasi yaitu suatu kekuatan potensial yang ada didalam diri manusia yang dapat dikembangkannya sendiri atau dapat dikembangkan dari sejumlah kekuatan dari luar yang ada berkisar sekitar imbalan materi dan non materi yang dapat mempengaruhi hasil kerjanya. Selain itu pula bagi pihak perusahaan yakni PT. Foxconn itu sendiri harus memotivasi para karyawannya lainnya (selain parah buruh) untuk dapat mengarahkan daya dan potensi mereka agar mau berkerjasama secara produktif untuk mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan yakni memenuhi target produksi yang maksimal.


DAFTAR PUSTAKA


0 komentar:

Posting Komentar

 

Faradina Lestari Wissa Putri Template by Ipietoon Cute Blog Design and Homestay Bukit Gambang

Blogger Templates