Sabtu, 30 Maret 2013

Tugas Kesehatan Mental 1


KESEHATAN MENTAL
TUGAS 1


 








OLEH :
FARADINA LESTARI WISSA PUTRI
NPM :12511691
KELAS :2PA06
JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI


UNIVERSITAS GUNADARMA 2011



            Banyak orang yang mengatakan bahwa diri nya sehat, dan semua orang ingin hidup nya selalu sehat. Tapi apakah anda tau apa itu sehat ? ya sehat adalah keadaan dimana seseorang merasakan bahwa dirinya tidak mengalami gangguan fisik, mental, tidak memiliki suatu penyakit dan hidup dengan sejahtera.
Sedangkan pengertian kesehatan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1948  menyebutkan bahwa pengertian kesehatan adalah sebagai “suatu keadaan fisik, mental, dan sosial kesejahteraan dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan”.
            Sedangkan pengertian kesehatan menurut Undang-undang adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
            Konsep Kesehatan memiliki beberapa dimensi diantaranya :

  1. Dimensi Emosional

Menurut Goleman, emosional merupakan hasil dari rasa takut, gelisah, marah, sedih dan senang. Sedangkan Dimensi Emosional dalam konsep kesehatan yaitu bagaimana seorang individu dapat menikmati hidup nya dengan baik dan dapat dengan baik pula dalam mengatasi masalah dalam hidupnya. Orang yang sehat secara emosi dapat terlihat dari kestabilan dan kemampuan dirinya dalam mengontrol dan mengekspresikan perasaan nya seperti perasaan marah, sedih maupun senang, yang dilakukan secara tidak berlebihan. Selain itu seorang individu harus memiliki kemampuan untuk mengelola stress dan mengekspresikan emosinya agar dapat diterima orang lain dan mampu mendisiplinkan diri.
  1. Dimensi Intelektual
Konsep Kesehatan dengan dimensi intelektual yaitu, dengan berfikir divergen (mencoba untuk menemukan berbagai perbedaan dan bias dengan kreativitas yang biasanya dapat diukur dengan fluency, flexibilitas, dan originality) dan berfikir kritis, selain itu mampu membuat keputusan dengan tepat. Selain itu, dapat memecahkan masalah dengan pikiran yang tenang, agar dapat memecahkan maalahnya dengan baik.
Seseorang dapat dikatakan sehat secara intelektual yaitu jika seseorang memiliki kecerdasan dalam kategori yang baik serta mampu melihat realitas. Serta memiliki nalar yang baik dalam memecahkan masalah atau mengambil keputusan. Seorang individu juga harus memiliki kemampuan belajar dan menggunakan informasi secara efektif antar personal, keluarga dan pengembangan karier. Kesehatan intelektual meliputi usaha untuk secara terus menerus tumbuh dan belajar untuk beradaptasi secara efektif dengan perubahan baru.

  1. Dimensi Fisik

Suatu kondisi tubuh yang diharuskan dengan kondisi tubuh yang sehat, serta mempunyai kebiasaan hidup yang sehat. Dikatakan sehat bila secara fisik (fisiologis) terlihat normal, tidak cacat, tidak mudah sakit dan tidak ada kekurangan sesuatu (fisik) apapun.
Selain itu, kondisi fisik yang baik harus memiliki kemampuan dalam menyelesaikan tugas sehari-hari, pencapaian kebugaran, menjaga nutrisi dan ketepatan proporsi tubuh dari timbunan lemak yang berlebihan, bebas dari penggunaan obat-obatan, alkohol dan rokok.

  1. Dimensi Sosial

Sehat secara sosial dapat dikatakan bagi mereka yang bisa berinteraksi dan berhubungan dengan baik dengan lingkungan sekitarnya serta mampu untuk bekerja sama. Seorang individu harus mampu menjalankan perannya di keluarga maupun di lingkungan masyarakat. Seseorang dapat melakukan perannya dalam lingkup yang lebih besar dan dapat berinteraksi dengan baik. Kemampuan berinteraksi secara baik dengan sesama dan dengan lingkungannya, serta dapat menjaga dan mengembangkan keakraban individu, dan dapat menghargai serta toleran terhadap setiap pendapat dan kepercayaan yang berbeda.

  1. Dimensi Spiritual

Spiritual merupakan kehidupan kerohanian. Dengan menyerahkan diri dengan bersujud kepada keprcayaan agama yang dianut oleh masing-masing individu, dan adanya nilai-nilai agama yang dianut. Sementara orang yang sehat secara spiritual adalah mereka yang memiliki suatu kondisi ketenangan jiwa dengan id mereka. Secara rohani seseorang dianggap sehat karena pikirannya jernih, tidak melakukan atau bertindak dengan hal-hal yang diluar batas kewajaran sehingga bisa berfikir rasional.
Adanya dimensi spiritual menyebabkan seorang individu percaya adanya beberapa kekuatan (seperti kekuatan alam, ilmu pengetahuan, agama dan bentuk kekuatan lain) yang diperlukan manusia dalam mengisi kehidupannya. Setiap individu memiliki nilai moral dan etika yang dianutnya.










KESIMPULAN

Konsep kesehatan memiliki 5 dimensi, yaitu :
1.      Dimensi Emosi, yang artinya seseorang mampu mengendalikan perasaannya sesuai dengan keadaan. Serta kemampuan seseorang untuk mengelola stress dan perasaannya agar perilakunya dapat diterima dengan baik oleh orang lain.
2.      Dimensi Intelektual, artinya seseorang dapat dikatakan sehat secara intelektual jika seseorang memiliki kecerdasan dalam kategori yang baik dan mampu melihat realitas, serta memiliki nalar yang baik dalam memecahkan masalah atau dalam mengambil keputusan.
3.      Dimensi fisik, artinya seseorang yang dikatakan sehat bila secara fisiologis (fisik) terlihat normal, tidak cacat, tidak mudah sakit dan tidak kekurangan sesuatu apapun (terutama dalam hal fisik).
4.      Dimensi Sosial, artinya seseorang dapat dikatakan sehat secara dimensi sosial jika orang tersebut bisa berinteraksi dan berhubungan baik dengan sekitarnya serta mampu untuk bekerja sama dengan orang lain.
5.      Dimensi Spiritual, artinya seseorang yang sehat secara spritual adalah mereka yang memiliki suatu kondisi ketenangan jiwa dengan id mereka. Secara rohani dianggap sehat karena pikirannya jernih, tidak melakukan atau bertindak hal-hal yang diluar batas kewajaran sehingga bisa berfikir rasional.
               Apabila seseorang telah memiliki ke 5 dimensi konsep kesehatan seperti yang sudah dijelaskan, maka ia akan selalu hidup sehat dan sejahtera. 






                                                                                                 



TEORI PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

Kepribadian adalah bagian dari jiwa yang membangun keberadaaan manusia menjadi satu kesatuan, tidak terpecah-pecah dalam fungsi-fungsi. Memahami kepribadian berarti memahami aku, diri, self atau memahami manusia seutuhnya. Hal terpenting yang harus diketahui berkaitan dengan pemahaman kepribadian adalah bahwa pemahaman itu sangat dipengaruhi paradigma yang dipakai sebagai acuan untuk mengembangkan teori itu sendiri. Para ahli kepribadian ternyata meyakini paradigma yang berbeda-beda, yang mempengaruhi secara sistematik seluruh pola pemikirannya tentang kepribadian manusia. Paradigma itu pada sebagian ahli kepribadian dikemukakan dengan tegas, pada sebagian yang lain paradigmanya tersamar dan dikenali melalui metode analisisnya (Alwisol, 2007).
Perkembangan ini berlangsung sejak masa bayi hingga akhir hayat. Perkembangan merupakan suatu proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat), yakni pembentukan pribadi dalam keluarga, bangsa dan budaya.
Seiring dengan perkembangan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan, banyak ahli-ahli psikolog yang mengembangkan teori-teori mengenai kepribadian. Teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli psikolog biasanya saling berkaitan dan saling memiliki pengaruh yang kuat dalam perkembangan teori kepribadian manusia.
Perkembangan teori kepribadian yang paling terkenal menurut beberapa tokoh  diantaranya, :
1.      Erik Erikson
Erik Erikson terkenal dengan teorinya tentang 8 tahap atau fase perkembangan kepribadian manusia. Erikson memilih untuk lebih fokus pada perkembangan ego yang terjadi di sepanjang kehidupan manusia dari anak-anak sampai manusia tersebut mati. Erikson juga merupakan pelopor yang mengambil sudut pandang rentang kehidupan.
8 tahap/fase perkembangan kepribadian menurut Erikson memiliki ciri utama di setiap tahapnya, yaitu di satu pihak bersifat biologis dan di lain pihak bersifat sosial, yang berjalan melalui krisis diantara dua polaritas. 8 tahap itu diantaranya,:
1)      Basic Trust Vs Mistrust (Lahir-12/18bulan)
Bayi mengembangkan kesadaran apakah dunia merupakan tempat yang baik dan aman bagi dirinya. Kekuatan nya ada pada Harapan.
2)     Autonomy Vs Shame and Doubt (12/18 bulan-3 tahun)
Anak mengembangkan keseimbangan antara kemandirian serta kemampuan mencukupi kebutuhan diri dengan rasa malu dan ragu. Kekuatan : Kehendak.
3)     Initiative Vs Guilt (3-6 Tahun)
Anak mengembangkan inisatif ketika mencoba berbagai kegiatan baru dan tidak diliputi rasa bersalah. Kekuatan : Tujuan.
4)     Industry Vs Inferiority (6 tahun sampai masa pubertas)
Anak harus belajar berbagai keterampilan budaya atau menghadapi berbagai perasaan tidak mampu. Kekuatan : Keterampilan.
5)     Identity Vs Identity Confusion (Pubertas-Dewasa muda/Dewasa Awal)
Remaja harus menentukan siapakah dirinya (mencari jati diri) atau pada saat mengalami kebingungan mengenai berbagai peran. Kekuatan : Kebajikan.
6)     Intimacy Vs Isolation (Dewasa Awal)
Berusaha membuat komitmen dengan orang lain, jika tidak berhasil bisa menderita keterasingan dan hanya tertarik pada diri dan kegiatannya sendiri. Kekuatan : Cinta.
7)     Generativity Vs Stagnation (Dewasa Tengah)
Orang dewasa yang matang peduli dengan kemapanan dan membimbing generasi berikutnya atau merasa lemah secara pribadi. Kekuatan : Kepedulian.
8)     Intergrity Vs Despair (Dewasa Akhir)
Lansia mencapai penerimaan hidupnya sendiri, membuat mereka dapat menerima kematian atau putus asa atas ketidakmampuan nya dalam menghidupkan kembali kehidupan. Kekuatan : Kebijaksanaan.

2.      Gordon W Allport
            Kepribadian  adalah:"sebuah organisasi dinamis di dalam sistem psikis dan fisik individu yang menentukan karakteristik perilaku dan pikirannya."
Teori trait oleh Gordon W. Allport. Central trait, yaitu kumpulan kata-kata yang biasanya digunakan oleh orang untuk mendeskripsikan individu. Unit dasar dari kepribadian adalah trait yang keberadaannya bersumber pada sistem saraf. Allport percaya bahwa trait menyatukan dan mengintegrasikan perilaku seseorang dengan mengakibatkan seseorang melakukan pendekatan yang serupa (baik tujuan ataupun rencananya) terhadap situasi-situasi yang berbeda. Walaupun demikian, dua orang yang memiliki trait yang sama tidak selalu menampilkan tindakan yang sama. Faktor genetik dan lingkungan sama-sama berpengaruh dalam menentukan perilaku manusia.


3.      Sigmund Freud
            Freud dikenal sebagai Bapak Psikoanalisa. Freud terkenal dengan teori-teorinya yang ia hasilkan dari hasil penelitian yang ia lakukan. Menurut Freud, dinamika/struktur kepribadian terdiri dari 3 sistem atau tingkatan, yaitu :
  1.  id,yaitu tidak lain dari representasi psikis kebutuhan-kebutuhan biologis.
  2. Ego, berperan sebagai “eksekutif” yang memerintah, mengatur dan mengendalikan kepribadian, sehingga prosesnya persis seperti “polisi lalu lintas” yang selalu mengontrol jalannya id, super ego dan dunia luar, karena ego memiliki kontak langsung dengan realita.
  3. Super ego, adalah yang memegang keadilan atau sebagai filter dari kedua sistem kepribadian, sehingga tahu mana benar-salah, baik-buruk, boleh dilakukan-tidak boleh dilakukan dsb.
Freud kemudian mengidentifikasi tentang mekanisme pertahanan diri pada manusia, mekanisme pertahanan diri tersebut, diantaranya :
1.      Represi (Repression)
            Represi adalah mekanisme pertahanan diri yang paling dasar, karena muncul juga pada bentuk-bentuk mekanisme pertahanan diri lainnya.
2.      Pembentukan Reaksi (Reaction Formation)
Pembentukan Reaksi adalah salah satu mekanisme pertahanan diri agar dorongan yang ditekan bisa disadari dengan cara menyembunyikan diri dalam selubung yang sama sekali bertentangan dengan bentuk semula.
3.      Pengalihan (Displacement)
Pengalihan adalah salah satu mekanisme pertahanan diri dengan cara mengarahkan dorongan-dorongan yang tidak sesuai pada sejumlah orang atau objek sehingga dorongan aslinya terselubung atau tersembunyi.
4.      Fiksasi (Fixation)
Fiksasi adalah keterikatan permanen dari libido pada tahap perkembangan sebelumnya yang lebih primitif dan bersifat universal.
5.      Regresi (Regression)
Regresi adalah langkah mundur pada saat libido melewati tahap perkembangan tertentu di masa-masa yang penuh stress dan kecemasan, sehingga libido bisa kembali ke tahap yang sebelumnya.

6.      Proyeksi (Projection)
Proyeksi adalah dorongan atau perasaan orang yang tidak dapat diterima, padahal sebenarnya perasaan atau dorongan tersebut ada di alam tidak sadar dirinya sendiri.
7.      Introyeksi (Introjection)
Introyeksi adalah mekanisme pertahanan diri dimana seseorang meleburkan sifat-sifat positif orang lain ke dalam egonya sendiri.
8.      Sublimasi (Sublimation)
Sublimasi adalah represi dari tujuan genital dari Eros dengan cara menggantinya ke hal-hal yang bisa di terima, baik secara kultural maupun sosial. Tujuan sublimasi diungkapkan secara jelas terutama melalui pencapaian kultural kreatif, seperti pada seni, musik dan sastra. Lebih tepatnya pada segala bentuk hubungan antar manusia dan aktivitas-aktivitas sosial lainnya.
Kesimpulan dari mekanisme pertahanan diri yaitu melindungi ego dari kecemasan. Mekanisme-mekanisme tersebut bersifat universal yang artinya semua orang melakukan perilaku-perilaku defensif sampai pada tahap tertentu.
Pada umumnya mekanisme pertahanan diri memberikan manfaat pada individu dan tak berbahaya bagi masyarakat. Selain itu, salah satu mekanisme pertahanan diri yaitu sublimasi pada umumnya menguntungkan baik bagi individu maupun bagi masyarakat.
Tahap perkembangan Seksual/ Kepribadian pada manusia menurut Freud, yaitu :
1.      Tahap Oral (Lahir-1 tahun) : Aktifitas fokus pada mulut.
2.      Tahap Anal (1-3 tahun) : Aktifitas fokus pada anus.
3.      Tahap Phalic (3-6 tahun) : Aktifitas fokus pada alat kelamin.
4.      Tahap Latency (6-12 tahun) : Masa yang paling baik untuk belajar.
5.      Tahap Genital (diatas 12 tahun) : Menuju pubertas dan lebih dewasa.
 

Faradina Lestari Wissa Putri Template by Ipietoon Cute Blog Design and Homestay Bukit Gambang

Blogger Templates